Menurut Kantor Berita ABNA, Majelis Dars Kharij Fiqh yang diasuh Ayatullah al Uzhma Makarim Shirazi rabu pagi [4/12] berlangsung di Masjid A’dzham kota Qom Republik Islam Iran. Dalam majelis tersebut Ayatullah al Uzhma Makarim Shirazi menekankan pentingnya persoalan waktu dan tempat ketika hendak memanjatkan do’a. Beliau berkata, “Sebagian tempat di muka bumi ini dimuliakan oleh Allah diatas tempat lainnya, yang Allah SWT menyukai hamba-hambanya memanjatkan do’a dan pengharapannya ditempat-tempat khusus tersebut. Karenanya kemungkinan terkabulnya do’a yang dipanjatkan ditempat khusus tersebutpun lebih besar.”
Ulama besar Iran tersebut kemudian menjelaskan bahwa terjadinya peristiwa besar dan bersejarah di padang Karbala, dengan syahidnya Imam Husain as di tempat tersebut menjadikan Karbala menjadi tempat yang suci dan penuh berkah. “Di Karbala, Imam Husain as menunjukkan kepada umat siapa yang sebenarnya berada dipihak musuh dan dengan kesyahidan beliau ditempat tersebut, menjadikan Karbala sebagai tempat muqaddas dan tidak ada keraguan bahwa Allah menjadikan tempat tersebut sebagai salah satu tempat diijabahnya do’a-do’a.” tambahnya.
Ulama Marja Taqlid Muslim Syiah tersebut kemudan menambahkan, “Dengan datangnya bulan Safar, yang didalamnya terdapat hari-hari duka atas wafatnya Nabi Muhammad Saw, Imam Hasan as, Imam Musa ar Ridha dan peringatan duka Arbain Husaini, umat Islam harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, terutama dalam mendakwahkan syiar-syiar suci Islam dan Ahlul Bait as.”
Menurut penulis kitab tafsir al Amtsal tersebut, bulan Safar termasuk waktu yang terbaik untuk memanjatkan do’a dan membaca do’a ziarah Asyura.
Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Makarim Shirazi berkata, “Kepada para muballigh dan khatib saya pesankan untuk menyampaikan kepada masyarakat tujuan dan pesan dari kebangkitan Imam Husain as secara jelas dan mudah dipahami. Bahwa diantara tujuan revolusi Imam Husain as adalah demi tegaknya amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta demi tegaknya shalat dan amalan-amalan Islam. Karenanya, nihil mengenang kesyahidan Imam Husain as dengan kesedihan dan tangisan namun masih juga meninggalkan shalat dan menyepelekan larangan-larangan agama. Para muballigh dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari matan do’a ziarah Asyura yang penuh dengan pesan-pesan kebangkitan Imam Husain as.”
“Juga saya pesankan, kepada jama’ah yang akan menghadiri majelis-majelis duka di bulan Safar ini, untuk tetap menjaga kemuliaan acara dengan tidak menodainya dengan dosa-dosa dan sikap yang tidak memberi penghormatan, termasuk melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah [seperti melukai dan menyiksa diri]. Majelis-majelis duka harus dihindari dari kepentingan-kepentingan politik terlebih lagi jika dijadikan sebagai ajang provokasi untuk membenci dan memusuhi suatu pihak. Majelis duka harus dimurnikan untuk menyampaikan pesan-pesan kebangkitan Husaini, dan pesan-pesan tauhid Nabawi.” Lanjutnya.